Biografi Abdullah bin Numair

Biografi Abdullah bin Numair

Biografi Singkat Abdullah bin Numair

Nama lengkap: Abū Hishām ‘Abdullāh bin Numair bin ‘Āmir al-Hamdānī al-Kūfī
Lahir: sekitar pertengahan abad ke-2 H (perkiraan ± 130-an H)
Wafat: 199 H
Kota utama aktivitas: Kufah (Irak)

Lingkungan Kelahiran dan Keluarga

Abdullah bin Numair lahir dan tumbuh di Kufah, salah satu pusat ilmu terbesar dunia Islam abad ke-2 H. Kufah dikenal sebagai kota:
  • Pusat fiqh Ahl al-Ra’yi
  • Pusat periwayatan hadits jalur Irak
  • Tempat lahirnya banyak huffaz dan nuqqad hadits
Ia berasal dari keluarga ilmiah. Ayahnya, Numair bin ‘Āmir, juga dikenal sebagai perawi hadits. Hal ini membuat Abdullah tumbuh dalam suasana rumah yang akrab dengan sanad, majelis ilmu, dan tradisi hafalan.

Masa Menuntut Ilmu

Sejak usia muda, ia menghadiri majelis-majelis hadits Kufah. Ia belajar dari tokoh-tokoh besar seperti:
  • Sufyan al-Thawri
  • Al-A'mash
  • Hisyam bin ‘Urwah dan sejumlah tabi‘ut tabi‘in lainny
Ia hidup pada masa transisi antara generasi tabi‘ut tabi‘in dan generasi kodifikasi hadits. Secara kronologis, ia berada di tengah-tengah mata rantai sanad yang sangat penting.

Kehidupannya bertepatan dengan masa awal Dinasti Abbasiyah, ketika diskursus ilmiah berkembang pesat, tetapi juga terjadi dinamika politik dan teologis (misalnya awal munculnya perdebatan tentang sifat Allah dan al-Qur’an).

Karakter Keilmuan dan Pribadi

Beberapa ciri kehidupannya yang menonjol:

 A. Fokus pada Hadits

Ia dikenal sebagai muhaddits murni. Tidak terlalu dikenal dalam polemik politik atau teologi. Konsentrasinya adalah:
  • Menghafal riwayat
  • Memverifikasi sanad
  • Mengajar murid-muridnya

B. Kekuatan Hafalan

Para ulama menyebutnya sebagai hafizh, yang berarti memiliki penguasaan luas atas riwayat dan sanad. Ini menunjukkan bahwa kehidupannya sangat dekat dengan tradisi hafalan, bukan sekadar penulisan.

Aktivitas Mengajar dan Murid

Di masa dewasanya, ia menjadi guru besar di Kufah. Di antara muridnya adalah:
  • Imam Muslim
  • Abu Dawud
  • sejumlah perawi besar generasi ketiga
Keberadaan murid-murid besar ini menunjukkan bahwa majelisnya menjadi rujukan penting dalam jaringan sanad Irak.

Wafat

Ia wafat pada tahun 199 H, menjelang abad ke-3 H — masa keemasan kodifikasi hadits. Wafatnya menandai berakhirnya salah satu generasi huffaz Kufah yang menjadi fondasi bagi kitab-kitab shahih.

Kedudukan dalam Ilmu Hadits

Ia dikenal sebagai perawi yang tsiqah (terpercaya) dan kuat hafalannya. Para ulama jarh wa ta‘dil seperti:
  • Ahmad ibn Hanbal
  • Yahya ibn Ma'in
  • Al-Nasa'i
menilai beliau sebagai perawi yang kuat dan dapat dijadikan hujjah.

Hadits-haditsnya diriwayatkan dalam kitab-kitab besar, termasuk Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, menunjukkan tingginya kredibilitas beliau di kalangan muhadditsin. Sebagai ulama Kufah, ia dikenal memiliki corak riwayat yang kuat dalam sanad-sanad Irak, terutama jalur Kufah yang terkenal ketat dalam periwayatan. Ia hidup pada masa transisi politik Dinasti Abbasiyah, namun tetap fokus pada transmisi hadits dan menjaga kemurnian riwayat.

Peran Khusus Abdullah bin Numair dalam Sanad Shahih

Dalam Sahih al-Bukhari

Dalam Shahih al-Bukhari, Abdullah bin Numair berperan sebagai perawi tingkat guru (syuyūkh al-Bukhārī). Artinya, ia termasuk di antara para guru yang haditsnya langsung diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Beberapa poin penting perannya:

Penguat jalur Kufah

Ia menjadi representasi kuat sanad Kufah dalam kitab Bukhari. Jalur Kufah dikenal memiliki jaringan sanad melalui tokoh-tokoh seperti:
  • Al-A'mash
  • Sufyan al-Thawri

Perawi tsiqah dengan hafalan kuat

Karena kredibilitasnya tinggi, Bukhari tidak hanya meriwayatkan darinya sebagai mutāba‘ah (penguat), tetapi menjadikannya bagian dari sanad utama dalam beberapa riwayat.

Perantara generasi tabi‘ut tabi‘in ke generasi imam kutub sittah

Ia menjadi mata rantai penting yang menghubungkan ulama besar Kufah abad ke-2 H dengan generasi kodifikasi hadits abad ke-3 H.

Dalam Sahih Muslim

Peran beliau dalam Shahih Muslim bahkan lebih menonjol, karena:

🔹 Termasuk guru langsung Imam Muslim
Imam Muslim banyak meriwayatkan hadits darinya.

🔹 Sanad Irak yang kokoh dalam sistem Muslim
Imam Muslim dikenal sangat sistematis dalam menyusun sanad. Abdullah bin Numair sering muncul dalam jalur riwayat yang stabil dan kuat, khususnya melalui:
  • al-A‘mash
  • Hisyam bin ‘Urwah
  • dan ulama Kufah lainnya
🔹 Riwayatnya sering menjadi jalur pokok (aṣl), bukan sekadar syāhid
Ini menunjukkan tingkat kepercayaan tinggi dari Imam Muslim terhadap ketelitian dan hafalan beliau.

Penilaian Ulama Jarḥ wa Ta‘dīl

Beberapa kritikus hadits terkemuka memberikan penilaian positif terhadapnya:

Ahmad ibn Hanbal
Menilainya sebagai perawi tsiqah, kuat hafalan, dan termasuk ahli hadits Kufah yang kokoh.

Yahya ibn Ma'in
Memberikan penilaian tsiqah tanpa catatan kelemahan berarti.

Al-Nasa'i
Menyebutnya tsiqah ma’mun (terpercaya dan amanah).

Ibn Hajar al-Asqalani
Dalam Taqrib al-Tahdzib, mengklasifikasikannya sebagai tsiqah hafizh — menunjukkan tingkat hafalan yang tinggi.


Jumlah Hadits Yang Diriwayatkan

Bukhari : 17
Muslim : 290
Abu Dawud : 33
Tirmidzi : 32
Nasa'i : 12
Ibnu Majah : 107
Imam Ahmad : 377
Imam Malik : - 
Darimi : 5

Kesimpulan Singkat

Abdullah bin Numair adalah salah satu pilar periwayatan hadits Kufah abad ke-2 H. Ke-tsiqah-annya diakui para kritikus hadits, dan riwayatnya termaktub dalam kitab-kitab induk hadits. Ia menjadi bagian penting dalam jaringan sanad Irak yang kemudian banyak diadopsi oleh para penyusun kitab hadits generasi berikutnya.


Posting Komentar

0 Komentar