Biografi Qais bin Abi Hazim
Nama lengkap: Qais bin Abī Ḥāzim Ḥuṣain bin ‘Auf al-Bajalī
Kunyah: Abū ‘Abdillāh
Wafat: sekitar 84 H (ada yang mengatakan 98 H)
Daerah aktivitas: Kufah
Generasi: Tabi‘in senior (mukhadharam — hidup di masa jahiliyah dan Islam, tetapi tidak bertemu Nabi)
Riwayat Singkat
Qais bin Abī Ḥāzim adalah seorang ulama besar dari kalangan tabi‘in yang tinggal di Kufah. Ia termasuk generasi tua tabi‘in dan dikenal sebagai perawi hadits yang tsiqah (terpercaya) serta memiliki hafalan yang kuat.
Ia termasuk sedikit tabi‘in yang meriwayatkan dari banyak sahabat senior. Hal ini menjadikannya salah satu mata rantai penting dalam sanad hadits generasi awal, khususnya jalur Kufah.
1️⃣ Nasab dan Latar Kabilah
Nama lengkapnya adalah Qais bin Abī Ḥāzim Ḥuṣain bin ‘Auf al-Bajalī, berasal dari kabilah Bajīlah, sebuah kabilah Arab yang memiliki relasi kuat dengan Kufah pada masa ekspansi Islam. Ia termasuk golongan mukhadharam — hidup pada masa jahiliyah dan Islam, namun tidak sempat bertemu Nabi ﷺ.
Status mukhadharam ini penting, karena menunjukkan bahwa ia:
- Mengalami langsung transisi sosial Arab dari jahiliyah ke Islam.
- Menjadi saksi perubahan politik besar sejak masa Khulafā’ Rāsyidīn.
2️⃣ Lingkungan Kufah dan Pembentukan Keilmuannya
Qais menetap di Kufah, kota yang pada abad pertama Hijriyah menjadi pusat:
- Ilmu hadits dan atsar
- Fiqh berbasis riwayat sahabat seperti Abdullah ibn Masud
- Dinamika politik yang kompleks
Kufah adalah kota dengan atmosfer intelektual yang kuat namun juga sarat konflik politik. Dalam konteks ini, Qais dikenal sebagai figur yang fokus pada periwayatan, bukan agitasi politik.
3️⃣ Hubungan dengan Para Sahabat
Keistimewaan Qais terletak pada banyaknya sahabat senior yang ia temui dan riwayatkan, di antaranya:
- Abu Bakr al-Siddiq
- Umar ibn al-Khattab
- Uthman ibn Affan
- Ali ibn Abi Talib
- Abdullah ibn Masud
Hal ini menjadikannya salah satu tabi‘in yang memiliki jalur periwayatan luas dan beragam. Sebagian ulama bahkan menyebut ia termasuk tabi‘in yang paling banyak meriwayatkan dari sahabat besar di Kufah.
4️⃣ Kepribadian dan Karakter
Dalam literatur rijāl disebutkan bahwa Qais dikenal:
- Jujur dan wara‘
- Memiliki hafalan kuat pada masa mudanya
- Tidak dikenal sebagai pencari jabatan atau kedudukan politik
Namun pada masa tuanya, sebagian menyebutkan adanya sedikit perubahan hafalan (ikhtilāṭ ringan). Meski demikian, para imam besar tetap menerima riwayatnya.
5️⃣ Posisi Intelektual dalam Jaringan Sanad
Dalam peta transmisi hadits generasi awal , Ia menjadi penghubung antara sahabat senior dan generasi tabi‘in pertengahan.
Riwayatnya banyak terdapat dalam:
- Sahih al-Bukhari
- Sahih Muslim
Secara historis, ini menunjukkan bahwa ia berada dalam lingkaran perawi elite Kufah.
6️⃣ Masa Tua dan Wafat
Ia wafat sekitar tahun 84 H (ada pendapat 98 H) dalam usia lanjut. Usia panjangnya membuatnya mengalami beberapa fase politik:
- Khulafā’ Rāsyidīn
- Fitnah kubra
- Awal pemerintahan Umayyah
Namun dalam seluruh fase itu, ia tetap dikenal sebagai perawi, bukan aktor politik.
Analisis Kualitas Riwayat Menurut Ulama Jarḥ wa Ta‘dīl
Qais bin Abī Ḥāzim termasuk tabi‘in senior yang banyak meriwayatkan dari sahabat besar. Secara umum, mayoritas ulama jarḥ wa ta‘dīl menilainya sebagai tsiqat (terpercaya), namun terdapat beberapa catatan yang perlu dikaji secara ilmiah.
1️⃣ Penilaian Ulama yang Menshahihkan dan Mentautsiq
Mayoritas ulama menilainya kuat dan terpercaya, di antaranya:
- Yahya ibn Ma'in → Tsiqah
- Ahmad ibn Hanbal → Tsiqah
- Al-Nasa'i → Tsiqah
- Al-Ijli → Menyebutnya sebagai tabi‘i yang tsiqah
- Ibn Hibban → Memasukkannya dalam ats-Tsiqat
Keberadaan riwayatnya dalam dua kitab shahih (Bukhari dan Muslim) menunjukkan bahwa secara umum ia memenuhi standar tinggi periwayatan.
2️⃣ Catatan Kritik terhadapnya
Walaupun mayoritas menilainya tsiqah, ada beberapa catatan:
A. Perubahan Hafalan di Masa Tua
Sebagian ulama menyebutkan bahwa di akhir hayatnya terjadi ikhtilāṭ ringan (perubahan hafalan). Namun:
- Tidak sampai menjatuhkan statusnya sebagai tsiqah.
- Riwayat yang diambil sebelum masa tua tetap kuat.
B. Tuduhan Kecenderungan Politik
Sebagian kritikus menilai ia memiliki kecenderungan politik terhadap Bani Umayyah. Namun:
- Tidak ada tuduhan dusta.
- Tidak ada penilaian dha‘if yang kuat dari para imam besar.
- Kritik ini lebih bersifat historis daripada ilmiah terhadap hafalan.
3️⃣ Posisi Riwayatnya dalam Sanad
Qais termasuk perawi yang:
- Banyak meriwayatkan dari sahabat senior seperti:
- Menjadi mata rantai penting sanad Kufah.
- Secara metodologis:
- Jika sanad melalui Qais bersambung dan tidak ada illat lain, maka haditsnya shahih.
- Ia bukan perawi yang sering melakukan tadlis.
- Ia dikenal memiliki hafalan kuat pada masa produktifnya.
Telaah Isu Politik dan Pengaruhnya terhadap Jarḥ wa Ta‘dīl
Pembahasan tentang Qais bin Abī Ḥāzim tidak lepas dari tudingan sebagian pihak bahwa ia memiliki kecenderungan politik tertentu, khususnya terkait dinamika pasca-fitnah kubrā (konflik internal kaum Muslimin setelah wafatnya sahabat senior). Berikut analisis ilmiahnya:
1️⃣ Latar Sejarah Politik
Qais hidup di Kufah pada masa:
- Konflik antara kubu Ali ibn Abi Talib dan Muawiyah ibn Abi Sufyan
- Transisi menuju kekuasaan Bani Umayyah
Kufah sendiri dikenal sebagai basis pendukung ‘Ali. Dalam konteks ini, setiap perawi yang meriwayatkan keutamaan sahabat tertentu atau tidak menonjolkan keutamaan ‘Ali kadang dicurigai memiliki kecenderungan politik.
2️⃣ Tuduhan yang Muncul
Sebagian ulama muta’akhkhir menyebut bahwa Qais dianggap cenderung kepada kubu yang tidak ekstrem dalam membela ‘Ali. Namun penting dicatat: tidak ada tuduhan dusta (kadzib) terhadapnya.
3️⃣ Sikap Ulama Jarḥ wa Ta‘dīl
Para imam kritikus hadits seperti:
- Yahya ibn Ma'in
- Ahmad ibn Hanbal
- Al-Nasa'i
Tetap menilainya tsiqat, tanpa menjadikan isu politik sebagai alasan pelemahan.
Ini menunjukkan prinsip penting dalam ilmu jarḥ wa ta‘dīl:
Penyimpangan politik ringan (ghairu mukaffirah) tidak otomatis menjatuhkan kredibilitas periwayatan selama tidak terbukti dusta atau penyimpangan dalam hafalan.
Secara metodologis, penerimaan dalam dua kitab shahih menunjukkan bahwa para muhaddits besar tidak menganggap isu politik tersebut berdampak pada integritasnya.
Isu politik yang dikaitkan dengan Qais bin Abī Ḥāzim tidak berpengaruh signifikan terhadap penilaian jarḥ wa ta‘dīl. Mayoritas ulama tetap menilainya sebagai perawi terpercaya. Dalam metodologi hadits, integritas periwayatan dinilai dari kejujuran dan ketelitian, bukan sekadar afiliasi politik yang tidak ekstrem.
Jumlah Hadits Yang Diriwayatkan :
- Bukhari : 78
- Muslim : 26
- Abu Dawud : 9
- Tirmidzi : 21
- Nasa'i : 9
- Ibnu Majah : 18
- Imam Ahmad : 107
- Imam Malik : -
- Darimi : 10

0 Komentar