Biografi Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair
Berikut penjelasan lebih detail dan naratif mengenai kehidupan Al-Humaidi (Abū Bakr ‘Abdullāh bin az-Zubair al-Ḥumaidī, w. 219 H):
Latar Kelahiran dan Lingkungan Ilmiah
Al-Ḥumaidī lahir sekitar tahun 165 H dan tumbuh di Makkah, kota yang pada abad ke-2 H menjadi salah satu pusat ilmu paling penting di dunia Islam. Makkah kala itu dipenuhi para muhaddits dan fuqaha dari berbagai wilayah yang datang untuk haji sekaligus belajar. Lingkungan ini membentuk dirinya sebagai penuntut ilmu yang tekun sejak usia muda, khususnya dalam hadits dan fiqih Hijaz.
Nisbah “al-Qurasyī al-Asadī” menunjukkan keterkaitannya dengan Bani Asad dari Quraisy, sementara “al-Ḥumaidī” adalah nisbah yang kemudian lebih dikenal dalam literatur hadits.
Perjalanan Ilmiah dan Guru-Guru
Fase penting dalam hidupnya adalah berguru kepada Sufyan bin 'Uyainah, imam hadits besar Makkah. Dari Ibn ‘Uyainah, Al-Ḥumaidī menyerap:
- Ketelitian sanad
- Kekuatan hafalan
- Metode kritik perawi
Kemudian ia menjadi murid dekat Muhammad bin Idris al-Shafi'i. Kedekatan ini menjadikannya bagian dari generasi awal Syafi‘iyyah. Ia tidak hanya meriwayatkan pendapat gurunya, tetapi juga membela dan menyebarkan manhajnya di Hijaz.
Dengan kombinasi ini, Al-Ḥumaidī dikenal sebagai Muhaddits yang faqih, dan faqih yang kuat sanadnya.
Kedudukannya sebagai Imam Makkah
Pada masanya, Al-Ḥumaidī menjadi salah satu rujukan utama hadits di Makkah. Banyak penuntut ilmu datang kepadanya, termasuk tokoh besar seperti:
- Muhammad bin Ismail al-Bukhari
- Abu Zur‘ah ar-Razi
- Abu Hatim ar-Razi
Hubungannya dengan al-Bukhari sangat erat. Bahkan hadits pertama dalam Shahih al-Bukhari diriwayatkan melalui jalur Al-Ḥumaidī, yang menunjukkan kedudukannya sebagai guru terpercaya dan berpengaruh.
Beliau jufa dikenal sebagai salah satu penyebar dan pembela madzhab Imam asy-Syafi‘i di Hijaz (Makkah dan sekitarnya).
Guru-Guru
Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi‘i
Sufyān bin ‘Uyainah
Waki‘ bin al-Jarrah
Yahya bin Sa‘id al-Qaththan dll
Kepribadian dan Sikap Ilmiah
Ia hidup pada masa munculnya perdebatan teologis tentang sifat-sifat Allah. Dalam hal ini, ia berada pada barisan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.
Secara pribadi, ia dikenal sederhana dan tidak mencari ketenaran. Fokus hidupnya adalah:
- Mengajar hadits
- Menjaga sanad
- Menyebarkan ilmu gurunya
- Karya dan Warisan Ilmiah
Karyanya yang paling terkenal adalah Musnad al-Humaidi, salah satu musnad awal yang menghimpun hadits berdasarkan sahabat. Kitab ini menjadi rujukan penting bagi muhadditsin setelahnya.
Warisan terbesarnya bukan hanya kitab, tetapi:
- Sanad-sanad kuat yang sampai kepada generasi imam besar
- Pengaruh metodologis terhadap al-Bukhari
- Penguatan dimensi hadits dalam mazhab Syafi‘i
Penilaian Ulama Jarḥ wa Ta‘dīl
Imam al-Bukhari
Al-Bukhari sangat mengagungkan Al-Ḥumaidī dan meriwayatkan banyak hadits darinya, termasuk hadits pertama dalam Shahih al-Bukhari.
Sikap ini menunjukkan bahwa beliau dinilai Tsiqah, tsabt, dan imam dalam hadits karena al-Bukhari sangat selektif terhadap guru-gurunya.
Imam Ahmad bin Hanbal
Imam Ahmad menyebutnya sebagai: ثقة إمام (Tsiqah dan imam). Istilah ini dalam disiplin jarḥ wa ta‘dīl menunjukkan:
- Adil
- Kuat hafalan
- Stabil dalam periwayatan
- Tidak dikenal melakukan kesalahan besar
Yahya bin Ma‘in
Beliau berkata: ثقة (Terpercaya)
Dalam istilah jarḥ wa ta‘dīl, predikat “tsiqah” adalah derajat tinggi, menunjukkan:
- Keadilan (‘adālah)
- Ketelitian (ḍabṭ)
Adz-Dzahabi
Al-Dhahabi menyebutnya: الإمام الحافظ، شيخ الحرم (Imam, hafizh, dan guru besar Makkah).
Istilah “ḥāfiẓ” menunjukkan:
- Hafal ribuan hadits beserta sanadnya
- Menguasai kritik perawi
Ibnu Hajar al-‘Asqalani
Ibn Hajar al-Asqalani menilainya: ثقة حافظ فقيه (Tsiqah, hafizh, sekaligus faqih). Ini menunjukkan kombinasi tiga kekuatan:
- Keadilan
- Kekuatan hafalan
- Kedalaman fiqih
Kesimpulan
Imam Al-Ḥumaidī adalah: Perawi tsiqah, hafizh, imam, dan hujjah dalam hadits
Riwayatnya:
- Diterima tanpa keraguan
- Berkualitas tinggi
- Menjadi sanad unggulan dalam Shahih al-Bukhari
Dalam disiplin jarḥ wa ta‘dīl, beliau termasuk tokoh otoritatif generasi pertengahan tabi‘ut tabi‘in akhir dan salah satu penguat sanad mazhab Syafi‘i dalam tradisi hadits.
Akhir Hayat
Al-Ḥumaidī wafat pada tahun 219 H di Makkah. Ia meninggal dalam kedudukan sebagai imam hadits Hijaz, dihormati oleh para ulama lintas wilayah.
Gambaran Historis
Jika melihat peta keilmuan abad ke-2 H:
- Di Madinah: Imam Malik
- Di Irak: Ahmad bin Hanbal
- Di Mesir: murid-murid Syafi‘i
- Di Makkah: Al-Ḥumaidī sebagai pilar hadits
Ia menjadi penghubung antara generasi Imam asy-Syafi‘i dan generasi Imam al-Bukhari, sehingga posisinya sangat strategis dalam sejarah transmisi hadits.
Jumlah Hadits Yang Diriwayatkan :
Bukhari : 79
Muslim : -
Abu Dawud : 5
Tirmidzi : 5
Nasa'i : 1
Ibnu Majah : -
Imam Ahmad : 3
Imam Malik : -
Darimi : 5

0 Komentar