Biografi Muhammad bin Ibrahim At Taimi
Identitas dan Nasab
Muḥammad bin Ibrāhīm bin al-Ḥārith at-Taimī al-Madanī (w. ±120 H) adalah seorang tabi‘in yang dinisbatkan kepada Bani Taim, salah satu kabilah Quraisy. Nisbah at-Taimī menunjukkan afiliasi kabilahnya, sedangkan al-Madanī menunjukkan bahwa ia menetap dan berkiprah di Madinah. Ia hidup pada generasi tabi‘in pertengahan, sezaman dengan sejumlah ulama besar Madinah.
Lingkungan Intelektual Madinah
Madinah pada masa hidupnya masih menjadi pusat transmisi hadis dan atsar sahabat. Banyak sahabat senior dan tabi‘in besar tinggal di sana. Lingkungan ini membentuk karakter keilmuannya yang:
- Berbasis atsar (riwayat),
- Berorientasi pada praktik (‘amal) penduduk Madinah,
- Minim spekulasi rasional dan perdebatan teologis.
Ia tumbuh dalam suasana ilmiah yang relatif stabil dibanding Kufah atau Bashrah yang penuh gejolak politik dan ideologis pada akhir abad pertama Hijriah.
Guru-Gurunya
Di antara guru yang paling masyhur adalah Alqamah bin Waqqas al-Laythi. Dari beliau inilah Muḥammad bin Ibrāhīm meriwayatkan hadis niat yang sangat terkenal. Sebagian riwayat juga menunjukkan ia mengambil dari sejumlah tabi‘in Madinah lainnya, meskipun jumlah riwayatnya tidak tergolong banyak.
Murid-Muridnya
Muridnya yang paling terkenal adalah Yahya bin Sa'id al-Ansari. Melalui Yaḥyā inilah hadis niat menyebar luas. Bahkan disebutkan bahwa lebih dari 200 ulama meriwayatkan hadis tersebut dari Yaḥyā. Ini menunjukkan bahwa Muḥammad bin Ibrāhīm berada pada titik penting dalam mata rantai transmisi hadis.
Karakter Pribadi dan Keilmuan
- Para ulama jarḥ wa ta‘dīl menilainya sebagai:
- Tsiqah (terpercaya)
- Lurus dan wara‘
- Tidak dikenal banyak kesalahan dalam riwayat
- Sedikit meriwayatkan, namun kuat kualitasnya
Ia tidak termasuk perawi yang sangat produktif, tetapi riwayatnya bernilai tinggi. Gaya hidupnya dikenal sederhana, tidak dekat dengan kekuasaan, dan fokus pada pengajaran serta periwayatan hadis.
Posisi dalam Sejarah Hadis
Namanya sangat dikenal karena posisinya dalam sanad hadis “Innamal a‘mālu binniyyāt…”
Hadis ini diriwayatkan oleh Umar bin Khattab, kemudian melalui ‘Alqamah, lalu Muḥammad bin Ibrāhīm, lalu Yaḥyā bin Sa‘īd, dan seterusnya hingga diriwayatkan oleh Muhammad al-Bukhari dalam Shahih-nya sebagai hadis pembuka.
Menariknya, pada masa Muḥammad bin Ibrāhīm, hadis ini masih tergolong gharīb (jalur tunggal pada tingkatan tertentu). Ini menunjukkan bahwa beliau adalah simpul penting dalam sejarah transmisi hadis.
Kondisi Politik pada Masanya
Ia hidup pada masa transisi kekuasaan Umayyah, ketika:
Madinah sebagai Pusat Sunnah yang Relatif Stabil
Muḥammad bin Ibrāhīm at-Taimī hidup dan meriwayatkan hadis di Madinah, kota yang:
- menjadi pusat tradisi hadis dan atsar sahabat,
- relatif lebih tenang secara politik dibanding Kufah, Bashrah, atau Syam pada akhir abad 1 H.
Jarak Madinah dari Pusat Konflik Politik
Pada masa Bani Umayyah, pusat kekuasaan berada di Damaskus, sementara:
- Kufah dan Bashrah menjadi sarang konflik politik, pemberontakan, dan polarisasi ideologis (Syi‘ah, Khawarij, Murji’ah),
- Madinah relatif menjaga jarak dari pertarungan politik aktif.
Minimnya Tekanan Negara terhadap Ulama Madinah
Walaupun Madinah pernah mengalami tekanan politik (misalnya tragedi al-Ḥarrah), secara umum:
- ulama Madinah tidak menjadi alat resmi propaganda negara,
- mereka tidak dikenal memproduksi hadis untuk kepentingan istana.
Tradisi “Diam dari Politik” (al-I‘rāḍ ‘an as-Sulṭān)
Muḥammad bin Ibrāhīm dikenal sebagai ulama yang:
- tidak dekat dengan penguasa,
- tidak tercatat terlibat dalam konflik kekuasaan,
- menjaga jarak dari jabatan resmi negara.
Jaringan Madani yang Bersih dari Polarisasi Mazhab
Wilayah Irak melahirkan banyak:
- perdebatan teologis awal,
- konflik fikih dan politik yang tajam.
- Sebaliknya, Madinah:
- mempertahankan corak atsar-oriented,
- belum terfragmentasi tajam oleh kepentingan politik.
Tidak ada catatan bahwa ia terlibat dalam pemberontakan atau polemik politik. Sikap ini selaras dengan tradisi ulama Madinah yang cenderung menjaga jarak dari kekuasaan.
Wafat
Sebagian besar sumber menyebutkan ia wafat sekitar tahun 120 H di Madinah. Ia meninggalkan warisan ilmiah yang mungkin tidak banyak secara kuantitas, tetapi sangat besar secara kualitas dan dampak.
Analisis Jarḥ wa Ta‘dīl
Secara umum, para imam hadis sepakat menilainya tsiqah. Berikut ringkasan penilaian mereka:
- Yahya bin Ma'in Menilainya: tsiqah.
- Ahmad bin Hanbal Menganggapnya terpercaya dan menerima riwayatnya tanpa keraguan.
- Abu Hatim al-Razi Menyatakan: ṣāliḥ al-ḥadīṡ, menunjukkan riwayatnya baik dan dapat dijadikan hujjah.
- Al-Nasa'i Menilainya: tsiqah.
- Ibn Hajar al-Asqalani Dalam Taqrīb at-Tahdhīb menyebutnya: tsiqah.
Tingkatan Kredibilitasnya
Berdasarkan penilaian tersebut, ia termasuk dalam kategori:
Tsiqah tsabt (terpercaya dan kokoh)
Walaupun sebagian ulama tidak menyebutnya dengan istilah tsabt, tidak ada indikasi kelemahan hafalan ataupun tuduhan tadlīs berat.
Jumlah Riwayat dan Dampaknya
Menariknya, Muḥammad bin Ibrāhīm tidak termasuk perawi yang banyak meriwayatkan hadis. Namun kualitasnya tinggi karena:
- Riwayatnya bersih dari kesalahan fatal,
- Tidak dikenal sebagai perawi yang sering wahm (keliru),
- Sanadnya relatif pendek dan stabil.
Contoh paling monumental adalah hadis niat yang melalui dirinya menjadi jalur tunggal pada satu tingkatan sanad. Meski jalurnya sempat gharīb, para ulama tetap menerimanya karena kredibilitasnya sangat kuat.
Jumlah Hadits Yang Diriwayatkan :
Bukhari : 25
Muslim : 22
Abu Dawud : 30
Tirmidzi : 19
Nasa'i : 31
Ibnu Majah : 22
Imam Ahmad : 110
Imam Malik : 16
Darimi : 15

0 Komentar