Biografi Yahya bin Sa'id Al Anshari

Ulama  Hadits Kalangan Tabi'in

Biografi Yahya bin Sa'id Al Anshari

Yahyā bin Sa‘īd bin Qais al-Anṣārī (w. 143 H) adalah seorang ulama besar dari kalangan tabi‘in Madinah, yang dikenal sebagai imam dalam hadits dan fikih. Ia berasal dari keluarga Anṣār dan tumbuh di kota Madinah, pusat utama transmisi sunnah Nabi ﷺ setelah wafatnya para sahabat.

Sejak muda, Yahyā bin Sa‘īd menimba ilmu dari para tokoh tabi‘in terkemuka seperti Sa‘īd bin al-Musayyib, ‘Urwah bin az-Zubair, al-Qāsim bin Muhammad, serta meriwayatkan hadits dari Anas bin Mālik. Ketekunannya dalam menjaga riwayat dan ketelitian dalam sanad menjadikannya sosok yang sangat dipercaya oleh para ulama hadits.

Ia kemudian menjadi guru bagi para imam besar, di antaranya Imam Mālik bin Anas, Sufyān ats-Tsaurī, dan al-Laits bin Sa‘d, sehingga perannya sangat penting dalam menyambungkan ilmu generasi tabi‘in kepada generasi imam mazhab. Karena keluasan ilmu dan keadilannya, Yahyā bin Sa‘īd pernah diangkat sebagai qāḍī (hakim) Madinah.

Riwayat-riwayatnya banyak termuat dalam Shahih al-Bukhārī dan Shahih Muslim, dan para ulama jarḥ wa ta‘dīl sepakat menilainya sebagai tsiqah, tsabat, dan hujjah. Ia wafat pada tahun 143 H, meninggalkan warisan ilmiah yang besar sebagai pilar sanad Madinah dan salah satu penjaga utama keotentikan sunnah Nabi ﷺ.

Perjalanan Ilmu dan Guru-Gurunya

Yahyā tumbuh dalam suasana ilmiah dan belajar kepada para imam tabi‘in, di antaranya:
  • Sa'id ibn al-Musayyib
  • Urwah ibn al-Zubayr
  • al-Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr
  • Anas ibn Malik
Dari mereka ia menyerap dua corak utama keilmuan Madinah:
(1) Kekuatan fikih dan fatwa, dan
(2) Ketelitian periwayatan hadits.

Ia dikenal tidak tergesa-gesa dalam meriwayatkan, serta sangat selektif dalam menerima dan menyampaikan hadits.

Karakter Keilmuan

Beberapa ciri utama kehidupannya sebagai ulama:
▸ Imam dalam Hadits
Para ulama jarḥ wa ta‘dīl seperti Yahyā bin Ma‘īn dan Ahmad bin Hanbal menilainya tsiqah, tsabat, dan hujjah. Riwayatnya menjadi sandaran dalam kitab-kitab induk hadits.

▸ Keseimbangan Fikih dan Hadits
Ia tidak hanya seorang muhaddits, tetapi juga faqih. Ia termasuk jajaran fuqahā’ Madinah generasi pertengahan setelah Sa‘īd bin al-Musayyib.

▸ Jabatan Qāḍī
Yahyā pernah menjabat sebagai hakim (qāḍī) di Madinah, menunjukkan reputasi moral dan integritasnya di mata penguasa dan masyarakat.

Murid-Murid dan Pengaruhnya

Pengaruh Yahyā sangat luas karena ia menjadi guru bagi para imam besar, seperti:
  • Malik ibn Anas
  • Sufyan al-Thawri
  • al-Layth ibn Sa'd
Melalui mereka, riwayat Yahyā tersebar ke Hijaz, Irak, dan Mesir. Dalam banyak sanad, ia menjadi poros utama jalur Madinah, termasuk dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.

Perannya dalam Transmisi Hadits

Salah satu jalur terkenalnya adalah sanad hadits niat:

Mālik → Yahyā bin Sa‘īd → Muhammad bin Ibrāhīm → ‘Alqamah bin Waqqāṣ → ‘Umar bin al-Khaṭṭāb

Sanad ini menjadi pembuka Shahih al-Bukhari, menunjukkan betapa sentralnya posisi Yahyā dalam jaringan sanad paling kuat. Ia dikenal jarang melakukan kesalahan dalam periwayatan dan sangat sedikit diperselisihkan riwayatnya.

Wafat dan Warisan Ilmiah

Yahyā bin Sa‘īd wafat pada tahun 143 H. Ia hidup di masa Dinasti Umayyah dan awal Abbasiyah, periode penting dalam kodifikasi awal hadits.

Warisan terbesarnya bukan berupa kitab yang ia tulis, tetapi berupa:
  • Sanad-sanad kuat
  • Murid-murid imam besar
  • Reputasi keilmuan yang disepakati para ahli hadits
Ia dikenang sebagai pilar transmisi sunnah Madinah, penjaga kesinambungan ilmu antara generasi tabi‘in dan imam-imam mazhab.

Penilaian Para Ulama Kritikus Hadits

▸ Yahya ibn Ma'in
Menilai beliau: “Tsiqah, hujjah.”
Ini menunjukkan beliau bukan sekadar dapat diterima, tetapi menjadi sandaran dalam periwayatan.

▸ Ahmad ibn Hanbal

Mengatakan: “Yahyā bin Sa‘īd adalah imam bagi kaum muslimin.”
Istilah imam dalam konteks jarḥ wa ta‘dīl menunjukkan keunggulan dalam agama, hafalan, dan ketelitian.

▸ Al-Nasa'i
Menilainya:“Tsiqah tsabat.”
Istilah tsabat berarti sangat kokoh dalam hafalan dan stabil dalam periwayatan.

▸ Ibn Sa'd
Menyebutnya:“Tsiqah, banyak hadits, dan terpercaya.”

▸ Ibn Hajar al-Asqalani
Dalam Taqrīb at-Tahdzīb beliau menyebutnya:“Tsiqah tsabat.”
Ini adalah derajat tinggi dalam klasifikasi Ibn Hajar.

Secara umum, para ulama sepakat bahwa Yahyā bin Sa‘īd al-Anṣārī adalah: ثقة ثبت حجة (Tsiqah, sangat kokoh hafalannya, dan hujjah dalam hadits)

Ia termasuk perawi tingkat tinggi (ṭabaqah ‘āliyyah) dari kalangan tabi‘in Madinah.

Kesimpulannya :
Menurut standar jarḥ wa ta‘dīl klasik:

Yahyā bin Sa‘īd al-Anṣārī berada pada derajat perawi elite (kelas pertama).
Ia bukan sekadar tsiqah, tetapi termasuk imam dan hujjah, sehingga riwayatnya dijadikan sandaran utama dalam hadits-hadits ahkām dan pokok-pokok agama.

Dalam hierarki perawi Madinah, ia berada satu tingkat di bawah tokoh-tokoh senior seperti Sa‘īd bin al-Musayyib, namun dalam aspek transmisi sanad kepada generasi imam mazhab, perannya justru sangat dominan.

Jumlah Hadits Yang Diriwayatkan :

Bukhari : 125
Muslim : 76
Abu Dawud : 49
Tirmidzi : 39
Nasa'i : 149
Ibnu Majah : 43
Imam Ahmad : 181
Imam Malik : 218
Darimi : 53


Posting Komentar

0 Komentar